Mamuju, ide-ta.com – Forum Pemuda Manakarra (FORPEMA) angkat suara atas kasus penganiayaan yang dialami oleh Ketua Gerakan Vendetta Sulawesi Barat, yang juga merupakan aktivis FORPEMA. Peristiwa kekerasan tersebut terjadi saat aksi damai di Kantor DPRD Mamuju pada Senin (15/7), ketika massa aksi menyampaikan tuntutan terkait eks narapidana koruptor yang masih aktif sebagai ASN.
Ketua FORPEMA, Muh Robbiyansyah, menyampaikan kecaman keras terhadap dugaan pemukulan yang dilakukan oleh oknum Anggota DPRD Mamuju dan tindak pengeroyokan yang dilakukan oleh aparat Satpol PP. Ia menyebut kejadian ini sebagai bentuk nyata pembungkaman ruang demokrasi dan kriminalisasi terhadap suara kritis pemuda.
“Kami mengecam keras tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum anggota DPRD Mamuju. Apalagi korban adalah aktivis yang sedang menyuarakan kepentingan publik di ruang yang sah secara konstitusional. Ini bukan sekadar pelanggaran etika, tapi dugaan tindak pidana,” tegas Ketua FORPEMA Muh Robbiyansyah, Kamis 17 Juli 2025.
FORPEMA mendesak agar Polresta Mamuju segera menetapkan tersangka dalam kasus ini, dan tidak bermain-main dengan proses hukum, mengingat salah satu terduga pelaku adalah pejabat publik yang seharusnya memberikan teladan, bukan justru mencederai demokrasi.
Selain itu, FORPEMA juga meminta Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Mamuju agar segera mengambil langkah etik dan memberikan sanksi tegas terhadap anggotanya yang terlibat kekerasan terhadap rakyat yang menyampaikan pendapat secara damai.
“Jangan biarkan rakyat hilang kepercayaan pada lembaga legislatif. Diamnya lembaga hanya akan menandakan pembiaran dan pembenaran atas kekerasan,” tambahnya.
FORPEMA menyatakan siap mengawal kasus ini hingga tuntas, dan menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya pemuda dan mahasiswa di Mamuju, untuk tidak diam melihat kekuasaan yang arogan dan represif.
(*)











