Pendidikan Belum Menjangkau Kaum Lemah

Mamuju, ide-ta.com — Sore hari di sebuah sudut Kabupaten Mamuju menjadi saksi betapa pendidikan masih belum sepenuhnya berpihak kepada semua anak. Saat sebagian anak pulang dari sekolah dengan seragam rapi, masih ada anak-anak lain yang hanya bisa memandang dari kejauhan, karena keadaan memaksa mereka berhenti belajar.

Kenyataan pahit itu ditemui oleh Forum Pemuda Pelajar Mahasiswa Mamuju Tengah (FORPMAT) setelah memindahkan sekretariat mereka ke Jalan Kurungan Bassi, Kabupaten Mamuju. Dalam perjumpaan sederhana dengan warga sekitar, FORPMAT menemukan anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah, namun terhenti langkahnya oleh keterbatasan ekonomi keluarga.

Tak ingin hanya menjadi penonton, FORPMAT memilih bergerak. Dengan segala keterbatasan yang ada, para mahasiswa membuka kegiatan belajar gratis bagi anak-anak putus sekolah. Setiap sore, mereka belajar membaca huruf, mengenal kata, dan mengaji, di ruang sederhana yang dipenuhi harapan dan doa akan masa depan yang lebih baik.

Kegiatan ini berjalan tanpa fasilitas memadai dan tanpa anggaran khusus. Namun, yang hadir adalah ketulusan, kepedulian, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan ilmu, apa pun latar belakang ekonominya.

Kader FORPMAT, Muh Idsal Ramadhani, mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan FORPMAT lahir dari rasa kemanusiaan yang tidak bisa lagi diabaikan.

> “Kami melihat langsung anak-anak yang seharusnya memegang buku pelajaran, tetapi justru harus menerima kenyataan pahit karena kondisi ekonomi keluarga. Mereka ingin belajar, mereka punya semangat, tetapi keadaan menghentikan langkah mereka. Ini sangat menyentuh nurani,” ujar Muh Idsal Ramadhani.

Ia menegaskan bahwa anak-anak tersebut bukan beban sosial, melainkan harapan dan masa depan Kabupaten Mamuju yang seharusnya dijaga bersama.

> “Anak-anak ini bukan angka dalam laporan. Mereka adalah generasi penerus daerah ini. Jika hari ini mereka dibiarkan tanpa pendidikan, maka kita sedang menyiapkan masa depan yang rapuh,” lanjutnya.

FORPMAT menegaskan bahwa pendidikan bukanlah sekadar program, melainkan hak dasar setiap anak yang wajib dijamin oleh negara dan pemerintah daerah. Selama masih ada anak di Kabupaten Mamuju yang putus sekolah karena kemiskinan, maka selama itu pula tanggung jawab kita belum selesai.

Anak-anak tersebut bukan beban, bukan pula kegagalan keluarga semata. Mereka adalah cermin dari sejauh mana negara dan pemerintah hadir dalam kehidupan rakyatnya. Membiarkan mereka tumbuh tanpa pendidikan sama artinya dengan membiarkan masa depan daerah berjalan dalam kegelapan.

Melalui langkah kecil ini, FORPMAT ingin mengetuk nurani semua pihak—khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju—agar tidak lagi menutup mata terhadap realitas sunyi yang terjadi di sekitar kita. Pendidikan harus menjangkau mereka yang paling lemah, bukan hanya mereka yang paling mudah dijangkau.

Karena sejatinya, masa depan Kabupaten Mamuju sedang duduk di hadapan kita hari ini, menunggu uluran tangan dan keberpihakan yang nyata.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *